S
|
emburat lembayung mewarnai cakrawala barat mengantar terbenamnya
matahari diawal musim dingin. Burung-burung kian kemari terbang
kembali ke sarangnya dengan riang karena perutnya sudah kenyang.
Pucuk-pucuk johar dan lontar kembali berderai-derai seolah-olah melambaikan
tanganya mengiringi kepergian sang mentari kembali ke peraduannya.
Rabu, 4 Januari 2012 disaat senja aku tengah duduk menyendiri di beranda rumah
kontrakanku tepat di Gang Tengah – Cowang Dereng Desa Batu Cermin Labuan
Bajo. Usai seharian membanting tulang mengais sesuap nasi, secangkir kopi
kunikmati sambil mendengar lantunan sebuah tembang kenangan. Senja sesepih seperti
inilah membuat aku terkenang kembali akan kisah bersejarah
dalam hidup yang pernah diceritakan oleh kedua orang tuaku.
Suatu ketika dikala si
raja siang kembali ke peraduannya sebuah keluarga yang hanya beranggotakan
ayah, ibu serta dua orang anak ikut mengasingkan diri di sebuah gubuk tua yang
hanya dilapisi dinding tipis serta beralaskan tanah. Dari kejauhan suasana
gubuk terlihat sunyi dan sepih, seolah-olah tak ada insan yang menghuninya.
Ketika malam tiba gubukpun nampak gemerlap, pertanda zaman masih belum
bersahabat. Menanti sang mentari kembali memerankan aksinya menyinari
dunia, sang ayah pun menyalakan pelita dan obor yang mana sudah dijadikan
sebagai sumber cahaya andalan oleh nenek moyang untuk memecahkan gelapnya
malam.
Malam semakin larut,
suasana pun makin sunyi. Disana sini tak terdengar lagi nyanyian
burung-burung. Rupanya semua mahkluk pencinta siang tengah terlelap, karena
letih dan lesu penghuni gubukpun ikut terlelap.
Hembusan angin malam
bertiup menusuk menembusi dinding tipis membuat sang ibu yang tengah mengandung
menggigil kedinginan. Sebuah kain usang yang dipakainya untuk menyelimuti
badan tak sanggup untuk menghalaukan dinginnya angin malam. Sang
ibu tak kuasa lagi menahannya. Ia pun menjerit. Mendengar jeritan itu
sang ayah serentak terbangun. Semenjak itulah dua pasang bola mata enggan
dipejamkan lagi hingga siang tiba. Seiring dengan angin malam yang tak berhenti
berhembus sang ibu pun terus menjerit. Sang ayah tercengang dan cemas.
Dalam hatinya berharap semoga sang mentari cepat bersinar.
Semula hanya terdiam,
namun ketika melihat sang istri tercinta terus menjerit ia pun keluar dari
gubuk untuk mengumpulkan ranting-ranting kayu lalu dibuatnya
api sebagai tempat perlindungan, sesaat kemudian apipun jadi. Duduklah mereka
disekitar api itu.
Tidak lama kemudian ayam berkokok pertanda pagi akan
segera tiba.
Ibu yang sedang mengandung yang mana semula menjerit
kendinginan rupanya waktunya telah tiba baginya untuk bersalin.
Dua puluh delapan
tahun silam pada dini hari tepatnya hari Kamis, tanggal 5 Januari 1984 Roh
Kudus turun ke atas mereka. Sang ibu melahirkan seorang putra.
“Terima kasih ya
Tuhan, atas anugerah-Mu, atas berkat-Mu yang Engkau berikan kepada kami. Pada
saat ini Engkau berikan kepada kami seorang putra. Kami berharap jadikanlah
anak kami ini seturut kehendak-Mu”. Sahut sang ayah
dalam hatinya.
Mulai saat itu anggota
keluarga bertambah satu orang. Kedua orang tua ini dengan penuh cinta dan
kasih sayang memelihara dan mendidik anak-anak mereka. Beberapa tahun
kemudian Tuhan lagi-lagi menunjukan cinta-Nya kepada keluarga ini dengan
menambahkan jumlah anggota keluarga hingga akhirnya menjadi tujuh orang (ayah,
ibu dan lima orang anak). Hari demi hari anak-anak pun bertumbuh
dewasa. Sebagai orang tua, kasihnya tak pernah pupus. Meski buah hati
mereka sudah dewasa namun kasih dan cinta mereka tak pernah pudar.
Segala puji dan syukur
ku haturkan kepada-Mu atas perpanjangan usia yang Engkau berikan kepada ku.
Berkati dan lindungilah aku, jadikan hari-hariku penuh cinta dan damai.
“Terima kasih ya
Tuhan, Engkau telah memberikan kami orang tua yang bertanggung jawab. Mereka
telah melahirkan, membesarkan serta mendidik kami.
Mungkin kami tak
sanggup untuk membalas budi mereka tapi kami memohon kepada-Mu :
Jagalah mereka,
berilah mereka makan dan minum serta berilah mereka umur panjang”.
Bapa, mama serta
adik-kakakku terima kasih terima kasih banyak atas semuanya. Mungkin segala
kebaikan yang telah ku terima tak dapat ku balas. Tapi kita serahkan semua kepada
Yang Maha Kuasa. Biarlah berkat-Nya melimpah ke atas kita seperti sungai
mengalir.
Amin.
Labuan Bajo, 5 Januari 2012
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar