Rabu, 12 Februari 2014

Dua Puluh Delapan


S
emburat lembayung mewarnai cakrawala barat mengantar terbenamnya matahari diawal musim dingin. Burung-burung kian kemari  terbang kembali  ke sarangnya dengan riang karena perutnya sudah kenyang.  Pucuk-pucuk johar dan lontar kembali berderai-derai seolah-olah melambaikan tanganya mengiringi kepergian sang mentari  kembali ke peraduannya.  Rabu, 4 Januari 2012 disaat senja aku tengah duduk menyendiri di beranda rumah kontrakanku tepat di Gang Tengah – Cowang Dereng Desa Batu Cermin Labuan Bajo.  Usai seharian membanting tulang mengais sesuap nasi, secangkir kopi kunikmati sambil mendengar lantunan sebuah tembang kenangan. Senja sesepih seperti inilah membuat aku terkenang kembali akan  kisah bersejarah  dalam hidup yang pernah diceritakan oleh kedua orang tuaku.
Suatu ketika dikala si raja siang kembali ke peraduannya sebuah keluarga yang hanya beranggotakan ayah, ibu serta dua orang anak ikut mengasingkan diri di sebuah gubuk tua yang hanya dilapisi dinding tipis serta beralaskan tanah. Dari kejauhan suasana gubuk terlihat sunyi dan sepih, seolah-olah tak ada insan yang menghuninya. Ketika malam tiba gubukpun nampak gemerlap, pertanda zaman masih belum bersahabat.  Menanti sang mentari kembali memerankan aksinya menyinari dunia, sang ayah pun menyalakan pelita dan obor yang mana sudah dijadikan sebagai sumber cahaya andalan oleh nenek moyang untuk memecahkan gelapnya malam.  
Malam semakin larut, suasana pun makin sunyi.  Disana sini tak terdengar lagi nyanyian burung-burung. Rupanya semua mahkluk pencinta siang tengah terlelap, karena letih dan lesu penghuni gubukpun ikut terlelap.
Hembusan angin malam bertiup menusuk menembusi dinding tipis membuat sang ibu yang tengah mengandung menggigil kedinginan.  Sebuah kain usang yang dipakainya untuk menyelimuti badan tak  sanggup untuk menghalaukan dinginnya angin malam.  Sang ibu tak kuasa lagi menahannya. Ia pun menjerit.  Mendengar jeritan itu sang ayah serentak terbangun. Semenjak itulah dua pasang bola mata enggan dipejamkan lagi hingga siang tiba. Seiring dengan angin malam yang tak berhenti berhembus sang ibu pun terus menjerit.  Sang ayah tercengang dan cemas. Dalam hatinya berharap semoga sang mentari cepat bersinar.
Semula hanya terdiam, namun ketika melihat sang istri tercinta terus menjerit ia pun keluar dari gubuk untuk mengumpulkan  ranting-ranting kayu lalu  dibuatnya api sebagai tempat perlindungan, sesaat kemudian apipun jadi.  Duduklah mereka disekitar api itu.
Tidak lama kemudian ayam berkokok pertanda pagi akan segera tiba.
Ibu yang sedang mengandung yang mana semula menjerit kendinginan rupanya waktunya telah tiba baginya untuk bersalin.  
Dua puluh delapan tahun silam pada dini hari tepatnya hari Kamis, tanggal 5 Januari 1984 Roh Kudus turun ke atas mereka.  Sang ibu melahirkan seorang putra.
“Terima kasih ya Tuhan, atas anugerah-Mu, atas berkat-Mu yang Engkau berikan kepada kami. Pada saat ini Engkau berikan kepada kami seorang putra. Kami berharap jadikanlah anak kami ini seturut kehendak-Mu”.  Sahut sang ayah dalam hatinya. 
Mulai saat itu anggota keluarga bertambah satu orang.  Kedua orang tua ini dengan penuh cinta dan kasih sayang memelihara dan mendidik anak-anak mereka.  Beberapa tahun kemudian Tuhan lagi-lagi menunjukan cinta-Nya kepada keluarga ini dengan menambahkan jumlah anggota keluarga hingga akhirnya menjadi tujuh orang (ayah, ibu dan lima orang anak).   Hari demi hari anak-anak pun bertumbuh dewasa. Sebagai orang tua, kasihnya tak pernah pupus.  Meski buah hati mereka sudah dewasa namun kasih dan cinta mereka tak pernah pudar.

Segala puji dan syukur ku haturkan kepada-Mu atas perpanjangan usia yang Engkau berikan kepada ku. Berkati dan lindungilah aku, jadikan hari-hariku penuh cinta dan damai.

“Terima kasih ya Tuhan, Engkau telah memberikan kami orang tua yang bertanggung jawab. Mereka telah melahirkan, membesarkan serta mendidik kami.
Mungkin kami tak sanggup untuk membalas budi mereka tapi kami memohon kepada-Mu :
Jagalah mereka, berilah mereka makan dan minum serta berilah mereka umur panjang”.

Bapa, mama serta adik-kakakku terima kasih terima kasih banyak atas semuanya. Mungkin segala kebaikan yang telah ku terima tak dapat ku balas. Tapi kita serahkan semua kepada Yang Maha Kuasa.  Biarlah berkat-Nya melimpah ke atas kita seperti sungai mengalir.
Amin.
  
                                                                                          Labuan Bajo, 5 Januari 2012